TAPIN – Kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Tapin menonjolkan pentingnya pemahaman terhadap kondisi lahan, karakter wilayah, serta kecepatan koordinasi antarpihak sebagai kunci penanganan bencana yang kembali muncul di sejumlah kawasan.
Hingga 30 Agustus 2026, luas lahan terdampak karhutla di wilayah Kabupaten Tapin tercatat lebih dari 100 hektare yang tersebar di sejumlah kecamatan.
Gambaran nyata tersebut menjadi salah satu perhatian dalam kunjungan empat Perwira Siswa (Pasis) Pendidikan Reguler (Dikreg) Sesko TNI LVI ke Makodim 1010/Tapin, Selasa (1/9/2026). Kunjungan ini menjadi bagian dari pembelajaran lapangan untuk melihat secara langsung dinamika kewilayahan sekaligus strategi satuan dalam menghadapi karhutla.
Kedatangan para Pasis disambut langsung Komandan Kodim (Dandim) 1010/Tapin Letkol Inf Dimas Yamma Putra. Dalam kesempatan tersebut, Dandim memaparkan kondisi wilayah Tapin, termasuk berbagai tantangan yang dihadapi dalam upaya pencegahan dan penanganan karhutla selama musim kemarau.
Menurut Dandim, pencegahan menjadi langkah utama. Namun ketika kebakaran terjadi, kecepatan respons dan keterpaduan antarunsur menjadi kunci agar api tidak meluas.
“Kami terus melakukan pencegahan. Jika terdapat karhutla, semua bergerak secara bersama-sama untuk melakukan pemadaman,” ujar Dandim.
Ia menegaskan, penanganan karhutla tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Kodim 1010/Tapin terus membangun sinergi dengan unsur terkait, termasuk Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tapin, sebagai bagian dari upaya mempercepat penanganan di lapangan.
“Kami bersinergi dengan BPBD Tapin sebagai perbantuan dalam penanganan karhutla,” lanjutnya.
Tantangan semakin kompleks karena sejumlah wilayah Tapin memiliki karakteristik lahan yang berbeda. Kecamatan Tapin Tengah, misalnya, memiliki kawasan lahan gambut yang membutuhkan perhatian khusus dalam upaya pencegahan maupun penanganan kebakaran.
Bagi para Pasis, kondisi tersebut menjadi pengalaman lapangan yang penting. Kolonel Laut (P) Choirul Arif selaku Pasis Dikreg Sesko TNI LVI mengatakan, kunjungan tersebut dilakukan untuk memperoleh gambaran faktual mengenai persoalan yang dihadapi satuan kewilayahan dalam menangani karhutla.
“Kami melakukan kunjungan terkait penanganan karhutla di wilayah Kodim 1010/Tapin. Dengan seperti ini tentunya kami akan mengetahui hambatan-hambatan yang ditemui di Satkowil sebagai unsur di lapangan,” kata Choirul Arif.
Menurutnya, pengalaman langsung di lapangan memberikan pemahaman yang lebih utuh kepada para Pasis mengenai pola koordinasi, hambatan, serta kebutuhan satuan dalam menghadapi berbagai persoalan kewilayahan.
Tidak berhenti di Makodim, rangkaian kunjungan kemudian berlanjut ke Desa Hiyung, Kecamatan Tapin Tengah. Para Pasis diterima Kepala Desa Hiyung sebelum melanjutkan kegiatan ke lokasi karhutla.
Di tengah agenda pembelajaran tersebut, para Pasis turut melihat secara langsung proses penanganan kebakaran hutan dan lahan di Desa Sungai Rutas Hulu, Kecamatan Candi Laras Selatan.
Karhutla yang terjadi di kawasan tersebut melanda lahan sekitar 9 hektare, terdiri atas sekitar 5 hektare semak belukar, 2 hektare kebun sawit, dan 2 hektare kebun cabai.
Tak hanya mengamati, para Pasis turut membantu proses pemadaman bersama unsur yang berada di lapangan. Keterlibatan tersebut memberikan pengalaman langsung mengenai bagaimana penanganan karhutla dilakukan di medan sebenarnya, termasuk menghadapi kondisi lahan dan karakter api yang dapat berubah dengan cepat.
Di lokasi, Pasis Dikreg Sesko TNI LVI Kolonel Inf Rahmat juga menyampaikan pesan tegas kepada masyarakat agar bersama-sama menjaga lingkungan dan tidak melakukan tindakan yang dapat memicu kebakaran.
“Jaga hutan kita. Jangan gara-gara sebatang rokok menyusahkan ribuan masyarakat. Tetap semangat para warga,” tegas Kolonel Inf Rahmat.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa pencegahan karhutla tidak hanya bergantung pada kesiapan petugas ketika api sudah muncul. Kesadaran setiap orang untuk tidak melakukan tindakan yang berpotensi memicu kebakaran menjadi bagian penting dalam melindungi lingkungan sekaligus menjaga keselamatan dan kehidupan masyarakat.
Kunjungan tersebut menjadi gambaran bahwa pembelajaran strategis tidak hanya berlangsung di ruang kelas. Kondisi faktual di wilayah, termasuk ancaman karhutla, menjadi bagian penting untuk memahami bagaimana satuan kewilayahan membangun kesiapsiagaan, memperkuat koordinasi, serta mengambil langkah cepat ketika bencana terjadi.
Bagi Kabupaten Tapin, sinergi lintas sektor dan kesadaran masyarakat menjadi dua kekuatan penting dalam menghadapi karhutla, terutama di tengah ancaman kebakaran yang dapat menyebar luas pada kawasan semak, perkebunan maupun lahan gambut.(1010).





